Translate

Tuesday, January 3, 2017

Pedang Raja : (7) Kisah Pemanah yang Setia

... Jangan meremehkan orang-orang yang memilih untuk tetap setia. Kita tidak tahu seberapa mahal harga yang ia bayar untuk mempertahankan kesetiaannya itu. ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (6) Doa yang Benar
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (8) Kisah Perjuangan Sang Buaya

… aku adalah seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun …

     Ayahku adalah seorang tukang besi yang gagah dan kuat. Dia adalah laki-laki yang sangat baik hati dan penyayang. Namun di balik keramahan dan kelembutannya, tersimpan juga ketegasan dan keberanian yang kukagumi dan ingin kuikuti. Ayahku itu selalu memperlihatkan kasih sayang dan perhatiannya padaku. Dia sabar mendidik dan mengajarku, dia juga sering memberiku pelajaran hidup lewat nasihat-nasihatnya. Namun di sisi lain, dia juga tidak akan segan-segan menegur dan memarahiku jika aku melakukan sebuah kesalahan atau kenakalan. Perpaduan yang unik yang menempatkan ayahku sebagai teladan utama dan pertamaku di hidup ini.

     Ayah tidak pernah mengeluhkan hari-harinya, yang kulihat sangatlah berat dan sibuk. Ayah bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga sehari-hari tanpa mengenal lelah. Ayah rela berkorban waktu dan tenaga, berjerih lelah seperti itu demi aku dan ibuku. Aku sangat menyayangi dan menghormati Ayah. Dan pasti Yah, aku berjanji akan menjadi seorang anak laki-laki yang teguh, tegar, pantang menyerah, dan tidak mudah berputus asa.

     Jika bercerita tentang ayahku, salah satu hal yang aku sukai adalah dia gemar bercerita padaku tentang banyak kisah. Kisah-kisah yang diceritakan oleh Ayah, kebanyakan adalah tentang kepahlawanan dan perjuangan. Ada beberapa kisah yang nyata, namun ada juga kisah-kisah yang hanya berupa dongeng semata. Biasanya Ayah menceritakan kisah-kisah tersebut saat sedang menasihatiku, saat kami sedang menikmati waktu luang, dan saat sebelum aku tidur pada malam hari.

Kisah-kisah yang diceritakan oleh Ayah, kebanyakan adalah tentang kepahlawanan dan perjuangan.

     Di antara banyak kisah yang Ayah ceritakan, ada sebuah kisah yang sangat menarik bagiku. Bukan karena kisah tersebut adalah kisah terbaik di dunia atau kisah dengan akhir yang menakjubkan, tapi karena ada sesuatu yang mengusik perasaanku saat aku mendengar kisah tersebut. Aku merasa bahwa aku mengenal kisah tersebut dan aku pernah mendengar kisah itu sebelumnya di masa lalu. Akan tetapi, sekeras apapun aku berusaha mengingat, aku tidak pernah berhasil mengingat kapan aku pernah mendengar kisah tersebut. Kisah itu terasa sangat tidak asing dan akrab di telingaku. Tapi ya mungkin itu hanya perasaanku saja.

     Kisah ini adalah kisah tentang seorang pemanah yang setia, yang tidak mau mengkhianati Rajanya sendiri karena emas dan perak. Ayah berkata bahwa kisah ini adalah kisah nyata dari seorang prajurit di kerajaan ini pada zaman dahulu kala. Dan seperti yang telah kuberitahukan pada kalian sebelumnya, kisah ini bukanlah kisah dengan akhir yang menakjubkan. Akan tetapi justru sebaliknya, kisah ini adalah kisah yang sangat mengharukan dan menyedihkan, kisah dengan sebuah akhir yang menyayat hati. Beginilah kisah itu …

     Pada masa lalu, kerajaan ini belum menjadi sebuah kerajaan yang sangat besar yang tidak perlu mengkhawatirkan keadaan di sekelilingnya. Akan tetapi kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang berdiri di tengah kerajaan-kerajaan lainnya dan juga suku-suku lainnya. Oleh karena keadaan sekitar kerajaan ini yang dipenuhi berbagai-bagai kerajaan dan suku, maka sang raja dari kerajaan ini pada masa itu perlu berwaspada dan menjalin hubungan dengan hati-hati.


Akan tetapi kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang berdiri di tengah kerajaan-kerajaan lainnya dan juga suku-suku lainnya.

     Pada masa itu, kerja sama dapat terjalin antara kerajaan manapun dan suku manapun. Kerja sama terjadi di berbagai bidang dan diupayakan membawa keuntungan bagi semua pihak yang bekerja sama. Kerja sama di bidang pertanian, di mana ada pihak yang menyediakan lahan, pihak yang menyediakan petani, serta pihak yang menyediakan bahan-bahan dan peralatan. Kerja sama di bidang perairan, di mana ada pihak yang membuka danau atau sungai di wilayah mereka untuk umum, pihak yang menyediakan tukang, serta pihak yang menyediakan alat-alat dan bahan. Ada juga kerja sama di bidang ilmu pengetahuan, di mana ada pihak yang menyediakan guru-guru, pihak yang menyediakan tempat-tempat belajar, serta pihak yang menyediakan bahan dan alat yang dibutuhkan.

     Akan tetapi sayangnya, pikiran manusia dapat memikirkan berbagai hal, termasuk hal yang licik dan egois, yang merugikan dan merusak, serta yang berdampak baik baginya walaupun berdampak buruk bagi orang lain. Maka tidak jarang terjadi juga persekongkolan untuk menyerang pihak lain, persekongkolan untuk merebut wilayah-wilayah yang menguntungkan, serta persekongkolan untuk memperbudak daerah yang kecil dan tidak dapat mempertahankan diri. Pada masa itu, bisa dikatakan sebagai masa yang kacau balau dan penuh rasa waswas bagi banyak orang.

     Termasuk bagi kerajaan ini…

     Di kerajaan ini, pada masa itu, hiduplah seorang pemuda yang miskin, yang tinggal hanya bersama dengan ibu dan ayahnya. Dalam kemiskinannya, keluarga ini hidup sebagai pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari orang lain, walaupun sebenarnya pada masa tersebut tidak banyak orang yang dapat memberikan belas kasihan itu pada mereka, karena keadaan yang serba menyulitkan. Pemuda ini suka dengan ketenangan dan tidak pernah berpikir untuk menyakiti orang lain. Pemuda ini adalah seseorang yang akan lebih memilih untuk menyakiti dirinya sendiri, berkorban, dan mengalah, daripada harus menyakiti orang lain.

Pemuda ini suka dengan ketenangan dan tidak pernah berpikir untuk menyakiti orang lain

     Pada suatu hari, tersiarlah pengumuman bahwa pihak kerajaan tengah membuka pendaftaran untuk menjadi prajurit kerajaan. Berita ini sampai di telinga ayah dan ibu si pemuda miskin dan mereka menyarankan agar si pemuda ikut serta mendaftar. Terjadi percakapan dan perdebatan karena si pemuda berkeras bahwa dirinya tidak mau dan tidak bisa menjadi prajurit karena hal itu tidak sesuai dengan keyakinan yang dia miliki. Namun orang tua mereka melihat bahwa kesempatan tersebut adalah kesempatan yang baik bagi putra mereka agar dirinya dapat mengabdikan hidupnya untuk sesuatu yang bermanfaat dan berharga. Pada akhirnya, setelah semalam-malaman berpikir dan berdoa, si pemuda memutuskan untuk ikut mendaftar menjadi prajurit kerajaan, dan terpaksa dengan berat menanggalkan keinginan dirinya sendiri.

     Setelah mendaftar, si pemuda miskin ternyata harus tinggal terpisah jauh dengan orang tuanya dalam jangka waktu yang lama. Di sini kesedihannya bertambah-tambah, namun dia tidak mundur karena orang tua si pemuda senantiasa mengirimkan surat-surat yang menyemangati putra mereka, yang berisi kata-kata penghiburan bahwa mereka pasti akan bertemu kembali. Orang tua si pemuda juga tidak lupa berpesan agar si pemuda menjaga diri baik-baik, serta tetap memiliki sikap dan hati yang baik dan benar.

     Kesedihan si pemuda ternyata tidak berakhir sampai di situ. Selama dia tinggal jauh dari orang tuanya, ternyata proses pelatihan dan tanggung jawab yang harus dia emban begitu berat, melelahkan, dan menyakitkan. Si pemuda mengalami pelatihan yang mendorong ketahanan tubuhnya sampai di ambang batas, si pemuda terkadang dipukuli dan dijahili oleh teman-temannya selama proses tersebut, serta si pemuda juga merasakan kesedihan yang berusaha dipendamnya saat dengan terpaksa dia harus menyakiti, bahkan menghilangkan nyawa orang lain, karena perintah dari komandan mereka.


Kesedihan si pemuda ternyata tidak berakhir sampai di situ.

     Bahkan, pada malam-malam tertentu, saat tengah berbaring tidur, si pemuda sering terlihat melamun sendiri dengan mata terbuka lebar sembari air mata mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya. Semuanya karena dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Semuanya karena, walaupun tubuhnya sekarang semakin kuat, namun hati dan pikirannya telah luluh lantak, sepenuhnya dijungkirbalikkan. Akan tetapi, si pemuda tidak pernah melupakan nasihat orang tuanya bahwa dia harus menjadi seseorang dengan sikap dan hati yang baik dan benar.

     Seiring waktu berjalan, minggu berlalu, bulan berlalu, dan tahun berlalu. Si pemuda telah dipercaya menjadi pemimpin pasukan pemanah kerajaan, yang bertanggung jawab kepada jenderal besar kerajaan di bawah pimpinan langsung sang raja. Pada masa ini, si pemuda dan kedua orang tuanya telah memiliki kehidupan yang lebih baik daripada masa lalu mereka. Akan tetapi hal ini hanya bagaikan hujan setitik di tengah kemarau panjang. Terik kemarau itu terasa begitu menyiksa, namun hujan membuat keadaan menjadi lebih baik selama beberapa saat, akan tetapi terik yang muncul setelah hujan itu pasti akan terasa lebih menyiksa daripada sebelumnya. Dan itu adalah gambaran yang tepat untuk menggambarkan kelanjutan kisah ini.

     Si pemuda, sebagai pemimpin pasukan pemanah kerajaan, mengetahui banyak rahasia strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan. Hal ini membuat suatu suku besar melihat adanya peluang untuk mengambil alih kerajaan ini secara licik. Suku besar ini memerintahkan beberapa orang untuk menculik kedua orang tua si pemuda, dan kemudian mengatur waktu pertemuan rahasia antara si pemimpin suku dan si pemuda.


Hal ini membuat suatu suku besar melihat adanya peluang untuk mengambil alih kerajaan ini secara licik.

     Pada waktu pertemuan rahasia ini, si pemimpin suku memberikan penawaran yang dirasanya akan membuat si pemuda membongkar strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan. Si pemimpin suku menawarkan pada si pemuda untuk memberitahukan semua yang dia tahu tentang strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan DENGAN imbalan emas dan perak berjumlah luar biasa. Si pemuda dengan yakin dan tegas menolak penawaran ini. Si pemimpin suku kemudian memberikan penawaran lainnya. Si pemimpin suku menawarkan pada si pemuda untuk memberitahukan semua yang dia tahu tentang strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan ATAU si pemuda akan mati di tempat itu, pada saat itu juga. Si pemuda dengan yakin dan tegas kembali menolak penawaran ini. Si pemimpin suku kemudian tersenyum dan memberikan penawaran lain lagi, penawaran terakhirnya. Si pemimpin suku menawarkan pada si pemuda untuk memberitahukan semua yang dia tahu tentang strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan ATAU si pemuda akan melihat mayat kedua orang tuanya.

     Si pemuda merasa sangat marah, sedih, dan takut, namun dia tidak dapat melakukan apa-apa. Si pemimpin suku kemudian meninggalkannya dan memberinya waktu satu hari untuk berpikir. Si pemuda berpikir dengan keras di kamar pribadinya di istana kerajaan, dan tangisan tertahan tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Dia begitu menyayangi kedua orang tuanya, namun dia juga mengingat bahwa orang tuanya selalu menasihatinya agar memiliki sikap dan hati yang baik dan benar.

     Akhirnya si pemuda memilih untuk melaporkan hal ini pada sang raja dan karena laporan ini, sang raja mengirimkan mata-mata untuk memperhatikan keadaan suku besar dan melaporkannya kembali pada sang raja. Secara pribadi, si pemuda juga berharap agar sang raja dapat mencari tahu keadaan kedua orang tuanya dan berusaha menyelamatkan mereka berdua. Namun demikian, sang raja hanya mampu mengatakan bahwa dirinya akan berusaha sekuat tenaga tanpa dapat menjanjikan keselamatan kedua orang tua si pemuda. Si pemuda menerima kenyataan pahit ini.


Si pemuda menerima kenyataan pahit ini.

     Laporan mata-mata kerajaan menunjukkan bahwa suku besar ini tengah mempersiapkan pasukan perang secara diam-diam untuk menyerang kerajaan secara tiba-tiba. Suku besar ini sebenarnya telah melanggar aturan perang terhormat dengan mempersiapkan serangan secara tiba-tiba. Akan tetapi, karena sang raja tidak ingin berperang secara tidak terhormat, maka sang raja berpikir untuk mengirimkan surat peringatan pada suku besar tersebut agar tidak melakukan penyerangan secara tiba-tiba. Namun demikian, di sisi lain, sang raja menyadari bahwa jika surat itu sampai di tangan si pemimpin suku, maka kemungkinan besar kedua orang tua si pemuda tidak akan selamat, karena si pemimpin suku pasti menyadari kemungkinan bahwa si pemuda telah membocorkan penawaran antara dirinya dan si pemuda kepada sang raja.

     Sang raja kemudian memutuskan untuk mempersiapkan pasukan perang secara sembunyi-sembunyi dengan tujuan untuk menahan serangan suku besar tersebut, tanpa tujuan untuk melakukan penyerangan balik, demi menjaga kehormatan kerajaan. Kemudian, pada hari suku besar tersebut melakukan penyerangan, akan ada kelompok pasukan khusus yang segera dikirimkan dengan cepat untuk menyelamatkan kedua orang tua si pemuda. Semuanya dengan harapan agar pasukan khusus ini dapat menyelamatkan kedua orang tua si pemuda SETELAH suku besar ini memutuskan untuk menyerang tanpa tahu apa yang telah terjadi dan dipersiapkan oleh kerajaan, namun SEBELUM suku besar tersebut menyadari bahwa si pemuda telah membocorkan percakapan rahasia antara si pemuda dan si pemimpin suku.

     Penyerangan dan peperangan pun terjadi, dan segala rencana yang telah disusun dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Hasilnya, kerajaan dapat menahan serangan suku besar dengan kemenangan yang gemilang. Akan tetapi ada berita buruk yang mengiringi kemenangan ini. Kedua orang tua si pemuda ternyata tidak dapat diselamatkan dari tangan suku besar yang menahan mereka. Ya, si pemuda harus menerima kenyataan bahwa kesetiaannya pada kerajaan harus dibayarkan dengan nyawa kedua orang tuanya. Suasana kerajaan memang penuh dengan sorak sorai, namun bagi pemuda ini hanya ada dukacita yang mendalam.


Akan tetapi ada berita buruk yang mengiringi kemenangan ini.

     Pada akhirnya, setelah beberapa hari, tibalah hari di mana sebuah upacara dilaksanakan untuk memberikan penghormatan kepada semua orang yang terlibat dalam peperangan. Pada saat ini, sang raja akan memberikan kata-kata penyemangat dan penghiburan, serta juga menganugerahkan berbagai penghargaan pada orang-orang yang dirasa sangat berjasa pada kerajaan. Upacara tersebut berlangsung dan tibalah saatnya sang raja memberikan penghargaan pada si pemuda, yang adalah pemimpin pasukan pemanah kerajaan, yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya karena kesetiaannya.

     Sang raja berkata, “Dan penghargaan tertinggi dari kerajaan ini akan aku anugerahkan pada seorang pemimpin pasukan kerajaan yang telah menunjukkan kesetiaannya dalam keadaan berat sekalipun. Yang walaupun harus membayar kesetiaannya dengan harga yang sangat mahal… terlalu mahal… Namun tetap memilih untuk setia…” Sang raja kemudian memanggil si pemuda untuk memberikan penghargaan bagi dirinya. Setiap orang yang hadir telah tahu apa yang terjadi, dan mereka menyadari betapa besar pengorbanan yang telah diberikan oleh si pemuda, demi kemenangan kerajaan, demi keselamatan semua orang. Setiap orang merasa segan dan memberikan penghormatan terdalam saat si pemuda berjalan dengan tegar ke hadapan sang raja.

     Si pemuda kemudian meminta dua permintaan pada sang raja. Sang raja menyanggupinya. Permintaan pertama si pemuda adalah bahwa permintaannya yang kedua HARUS dikabulkan. Sang raja menyanggupinya. Dan permintaan kedua si pemuda adalah dia ingin dihukum mati agar dapat berkumpul bersama dengan kedua orang tuanya. Sang raja dan setiap orang kaget. Akan tetapi ada keharuan yang mengikuti rasa kaget mereka. Mereka memahami alasan si pemuda meminta hal tersebut. Sang raja pun akhirnya menyanggupi permintaan si pemuda itu…

Dan permintaan kedua si pemuda adalah dia ingin ...

     … Begitulah kisah tentang seorang pemanah yang setia, yang dalam keadaan seberat apapun tetap memilih untuk setia. Kisah yang menyedihkan, bukan? Tapi banyak pelajaran yang dapat aku petik dari kisah ini. Dan tetap saja, kisah ini tidak hanya sekadar kisah bagiku, tapi entah mengapa aku merasa aku pernah mendengar kisah ini dari orang lain di masa lalu. Entah siapapun dia…

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (6) Doa yang Benar
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (8) Kisah Perjuangan Sang Buaya

No comments:

Post a Comment