Translate

Tuesday, December 27, 2016

Pedang Raja : (6) Doa yang Benar

... Bukankah kata-kata kita pada-Nya harus menyenangkan hati-Nya? Apakah Dia akan senang mendengarkan harapan-harapan buruk ini dari lidahku saat berdoa pada-Nya. ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

… aku adalah istri seorang tukang besi …

     Empat tahun telah berlalu sejak hari itu. Hari yang mengubah semuanya bagi kami, ya diriku, ya suamiku, dan kurasa hampir semua rakyat di kerajaan ini. Hari itu semuanya terasa dijungkirbalikkan tanpa ampun. Hari itu, empat tahun lalu, entah seberapa banyaknya pasukan berkuda kerajaan terlihat berlalu-lalang tanpa arah. Mereka terlihat seperti dikejar oleh sesuatu. Dan kami memang melihat apa yang mengejar mereka. Para pengejar mereka adalah suku liar yang tinggal jauh di daerah timur. Dan memang sebenarnya Raja telah mengeluarkan pengumuman tentang perang, namun seingatku, menurut pengumuman Raja, perang tersebut seharusnya berlangsung jauh dari tempat ini. Apakah pemandangan ini berarti pasukan Raja telah kalah? Apakah pemandangan ini berarti Raja sudah tiada? Apakah pemandangan ini berarti kami akan dikuasai oleh suku liar dari timur ini?

     Sayangnya, begitulah kenyataan yang terjadi. Suku itu telah menggempur habis istana tanpa belas kasihan. Hampir tidak ada siapapun di istana yang dibiarkan bebas atau hidup. Suku liar itu memang kejam dan tidak berbelas kasihan. Namun demikian, aku, suamiku, bayi laki-laki yang kuangkat menjadi anakku itu, serta tetangga-tetangga kami yang tinggal bersama kami di tepi sungai, untungnya lepas dari kekejaman mereka. Suku liar itu kelihatannya menilai kami sebagai rakyat yang miskin dan tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka menganggap kami tidak berbahaya dan tidak dapat mengancam mereka. Oleh karena itu, suku liar tersebut membiarkan kami begitu saja dan bergegas pergi, melanjutkan tugas yang diperintahkan kepada mereka, membunuh tanpa sisa sebanyak-banyaknya orang yang berhubungan dengan kerajaan, mungkin.

Hampir tidak ada siapapun di istana yang dibiarkan bebas atau hidup.

     Dan sekarang, empat tahun setelah penyerangan besar itu, kehidupan banyak orang di kerajaan ini telah berubah. Namun aku dan suamiku tidak mengalami perubahan yang terlalu banyak. Kami dahulu miskin, dan sekarang tetaplah miskin. Dulu kami berkekurangan, dan sekarang tetaplah berkekurangan. Dulu kami bukan orang berada, dan sekarang kami tetaplah bukan orang berada. Akan tetapi, tetap saja aku merasa bersyukur pada Tuhan karena Tuhan masih memberikan kami kesempatan untuk hidup. Lebih-lebih, Tuhan menghadirkan seorang anak untuk kami berdua, yang menjadi penghiburan bagi kami di kala menjalani hidup ini.

     Anak laki-laki ini, walau bukan darah dagingku sendiri, sangatlah kusayangi. Aku menganggapnya sebagai anakku sendiri yang dianugerahkan padaku dan suamiku oleh Tuhan yang Mahakuasa. Setiap malam aku memandang anak laki-laki ini dengan penuh kebahagiaan. Setiap malam aku berdoa untuk suamiku dan anak laki-laki ini, agar keluarga kecilku ini senantiasa kuat, tegar, dan berpengharapan dalam menjalani hidup yang, kenyataannya, terasa berat ini dalam keadaan kami yang serba sulit.

     Anak laki-lakiku yang telah berumur sekitar enam tahun itu tumbuh menjadi seorang anak yang sehat, gendut, lucu, bersemangat, dan menggemaskan. Setiap kali suamiku yang terkasih itu kembali dari tempat kerjanya di ruangan lain di sisi rumah kami, anakku itu berjalan ke arahnya dan menyambutnya dengan pelukan. Melihat pemandangan itu, aku hampir selalu melihat raut kelelahan pada wajah suamiku itu segera menghilang. Suamiku kemudian memeluk anakku dan menggendongnya, mengayun-ayunkannya penuh kasih dan keceriaan. Aku, sebagai seorang istri, sangat bahagia melihat pemandangan ini. Memang aku tidak salah memilihnya sebagai suamiku. Aku sangat mencintainya. Ya, walau terkadang dia bisa sangat menyebalkan, aku tidak mau dan tidak mampu meninggalkannya. Cinta memang aneh ya… Hahaha…

Aku, sebagai seorang istri, sangat bahagia melihat pemandangan ini.

     Pada malam-malam tertentu, aku beberapa kali juga pernah memikirkan hal lain tentang anak laki-laki ini. Dari mana anak laki-laki ini berasal dan siapakah orang tua kandungnya? Menurut cerita suamiku, dia menemukan anak laki-laki ini terhanyut di sungai, di dalam lekukan sebuah batang pohon besar, dengan hanya dilindungi oleh pakaiannya dan selembar robekan kain yang menutupi lekukan batang pohon tersebut. Aku jadi berpikir, orang tua seperti apa yang tega menghanyutkan anaknya di sungai tanpa tahu apa yang akan terjadi pada anaknya itu? Bagaimana jika si anak tenggelam? Bagaimana jika si anak kedinginan atau kepanasan? Bagaimana jika si anak bertemu dengan binatang buas? Tapi bagaimana jika menghanyutkan anak ini di sungai adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada mempertahankan anak itu di tempatnya berada? Mungkinkah ada hal yang lebih mengerikan yang akan terjadi pada anak ini daripada ketidakpastian di sungai? Jika memang benar demikian, pasti hal itu sangat mengerikan sekali, sampai-sampai merelakan kepergian anak ini di sungai menjadi pilihan yang lebih baik… Apa yang sebenarnya yang terjadi pada anak ini? Apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuanya?

     Jika aku melihat dan memperhatikan pakaian yang dikenakan bayi itu dan robekan kain yang menutupi lekukan batang pohon tempat anak itu berada dulu, aku hanya dapat menyimpulkan bahwa anak ini pasti merupakan anak seseorang yang sangat kaya. Pakaian bayi itu dan robekan kain tersebut sama-sama terbuat dari bahan yang sangat mahal dan langka. Tapi hanya itu yang bisa aku simpulkan. Tidak ada corak khusus maupun penanda khusus pada pakaian bayi itu dan robekan kain tersebut. Selain itu, tidak ada benda titipan unik yang diletakkan bersama-sama anak laki-laki ini saat ditemukan suamiku, dan tidak ada pula tanda lahir yang menarik perhatian pada anak laki-laki ini. Sesuatu yang membuatku putus asa sekaligus lega. Putus asa karena aku tidak dapat mengetahui masa lalu anak laki-laki ini lebih lanjut, sekaligus lega karena hal ini berarti tidak ada orang yang dapat mengaku sebagai orang tuanya atau kerabatnya yang dapat mengambil anak laki-laki ini dariku di masa mendatang.

Sesuatu yang membuatku putus asa sekaligus lega.

     Apakah aku egois jika memiliki pikiran seperti ini? Apakah aku salah jika memiliki pikiran seperti ini? Sebagai seseorang yang percaya kepada Tuhan, aku merasa bersalah karena keegoisanku. Akan tetapi, sebagai seorang istri yang menantikan seorang anak dan sebagai seorang ibu yang telah menumpahkan kasihnya pada seorang anak yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri, aku merasa bahwa aku tidak bersalah. Pada malam-malam tertentu, aku berdoa dengan penuh air mata karena hal ini. Pernahkah dirimu berdoa seperti ini, berdoa sampai kau harus menangis karena hatimu menahan egomu yang ingin meledak, karena egomu tidak mau menerima doa yang kauucapkan? Pernahkah dirimu berdoa seperti ini, berdoa sampai kau harus menangis karena jiwamu sakit saat mengatakan hal yang benar, walaupun egomu menginginkan hal yang sebaliknya?

     Sejujurnya, aku sangat sakit, namun aku tetap berdoa pada suatu malam, sambil berlutut di sisi tempat tidurku dan suamiku, “Tuhan… Terima kasih atas penyertaan, perlindungan, dan pemeliharaanmu sampai hari ini atas keluarga kecilku. Aku bersyukur atas setiap waktu yang Kau anugerahkan pada kami bertiga. Namun aku juga sadar bahwa aku tidak luput dari kesalahan, sehingga bukalah pintu maaf-Mu selebar-lebarnya untuk diriku ini…” Aku menarik napas sebelum melanjutkan, “Tuhan… Aku sungguh sangat bersyukur karena Kau mempercayakan seorang anak laki-laki untukku dan suamiku. Aku sangat berbahagia walaupun dia bukanlah darah daging kami sendiri. Kami akan merawatnya seperti anak kami sendiri. Kami berjanji padamu, Tuhan…”

... Kami berjanji padamu, Tuhan…”

     Lalu masuklah aku ke saat-saat yang berat dalam doaku. Aku ingin berdoa agar anak itu tidak pernah diambil dariku. Aku ingin berdoa agar orang tua anak itu tidak pernah akan menemukan anak itu. Aku ingin berdoa agar kerabat anak itu sudah tidak lagi mengingat-ingat anak yang hilang dari mereka ini. Tapi doa macam apa ini? Bukankah kata-kata kita pada-Nya harus menyenangkan hati-Nya? Apakah Dia akan senang mendengarkan harapan-harapan buruk ini dari lidahku saat berdoa pada-Nya? Saat itulah aku menangis. Aku tersedu-sedu karena sadar bahwa untuk mendoakan hal yang benar, aku harus menyakiti egoku sendiri. Aku kemudian melanjutkan doaku, “Tuhan…” Aku terisak, merasa begitu berat melanjutkan, tapi aku menarik napas dan merasa mendapat keberanian untuk melanjutkan, “Tuhan… Aku berjanji dan percaya bahwa aku dan suamiku akan merawat anak itu seperti merawat anak kami sendiri. Kami akan mendidiknya, mengajarnya, memeliharanya, dan menjaganya. Dan…” Aku terisak lagi sebelum melanjutkan, “Dan… biarlah orang tua anak itu dan kerabatnya…” Aku berhenti, bersiap sebelum mengatakan hal yang begitu berat bagiku, “Dan… biarlah orang tua anak itu dan kerabatnya… Senantiasa berbahagia, tidak berada dalam kesulitan, selamat sentosa, dan…”

     Aku tersedu-sedu… Aku tidak sanggup melanjutkan doa ini, karena aku sadar jika aku melanjutkan doaku dan Tuhan mengabulkannya, anak laki-laki yang kami sayangi ini akan berpisah dari kami selamanya… Tiba-tiba sebuah tangan memelukku dari belakang. Tangan itu adalah tangan hangat suamiku. Dia berkata padaku, “Lanjutkan doamu… Berdoalah agar semua yang terbaiklah yang terjadi untuk semua orang…” Aku merasa kaget sekaligus lega. Suamiku itu memelukku dan aku merasa begitu nyaman dan kuat di dalam pelukannya. Aku kemudian melanjutkan doaku, “Dan… Biarlah orang tua dan kerabat anak ini dapat berkumpul lagi bersama anak mereka, agar mereka dapat berbahagia kembali saat keluarga mereka yang terpisah pada akhirnya dapat bertemu kembali…” Aku kemudian mengakhiri doaku dengan tangisan yang tersedu-sedu di dalam pelukan suamiku.

“Lanjutkan doamu… Berdoalah agar semua yang terbaiklah yang terjadi untuk semua orang…”

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

No comments:

Post a Comment