Translate

Thursday, December 22, 2016

Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

... Seseorang yang dengan setia menemani dan mendukung langkah kita dalam senang maupun susah adalah anugerah yang sangat berharga ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (6) Doa yang Benar

... aku adalah seorang tukang besi …

     Aku adalah seorang tukang besi yang tinggal berdua dengan istriku yang sangat kucintai. Bagaimana tidak, dia adalah seseorang yang begitu cantik, manis, kuat, mandiri, lembut, penyayang, pengertian, lucu, bersemangat, lugu, ya pokoknya semua yang terbaik kurasa ada pada dirinya. Dialah kasihku yang menjadi duniaku, dialah cintaku yang menjadi tambatan hatiku. Aku tidak pernah sedetik pun menyesali kebersamaanku dengannya. Hmmm… terdengar berlebihan ya…  Tapi… Emmm… Pernah sih kami bertengkar, pernah sih kami salah paham, pernah sih kami sedih, dan pernah juga sih kami saling berdiam diri… Cuma saja, jika aku mengenang waktu-waktu indah saat diriku bersamanya, aku tidak mau menyerah pada semua kesulitan itu dan meninggalkan dirinya. Mungkin hal ini boleh aku nasihatkan pada kalian jika kalian sedang mengalami masa-masa sulit dengan pasangan kalian. Ingatlah saat-saat bahagia kalian, ingatlah saat-saat bersama kalian, ingatlah saat penuh canda tawa milik kalian berdua. Lalu pikirkanlah, apakah semua hal baik tersebut siap kalian korbankan karena semua hal buruk yang terjadi?

     Istriku itu adalah seorang yang sangat setia dan penuh pikiran baik. Jika aku menceritakan sebuah masalah padanya, istriku itu selalu saja dapat memberitahu apa yang harus kulakukan dan kuupayakan. Ya misalnya saja, dulu sebelum menjadi tukang besi, aku adalah seorang petani. Akan tetapi karena satu dan lain hal, sawah milikku yang sangat luas itu harus kurelakan tidak menjadi milikku lagi. Saat itu aku kemudian memasuki masa-masa tidak memiliki usaha untuk kukerjakan. Istriku kemudian berulang kali menasihatiku dan memintaku untuk mencoba melakukan pekerjaan apa saja. Dia ternyata memilih untuk setia menemaniku dan berjuang bersamaku, meski di masa-masa sulit seperti itu. Lalu, karena berulang kali dinasihati seperti itu, aku kemudian mencoba berbagai usaha. Pernah aku belajar menjadi nelayan, menjadi kuli, menjadi penambang, menjadi penebang pohon, sampai akhirnya aku menjadi tukang besi seperti sekarang ini.

Istriku kemudian berulang kali menasihatiku dan memintaku untuk mencoba melakukan pekerjaan apa saja.

     Kami berdua tinggal dekat dengan sebuah sungai yang cukup lebar. Kami tinggal di rumah kecil yang berderetan dengan beberapa rumah lainnya tempat keluarga-keluarga miskin seperti kami tinggal. Sungai yang lebar itu adalah sebuah sungai yang sangat indah dan sangat berarti bagi kami, yang tinggal di dekat sungai itu. Keindahannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Sungai itu bersisian dengan dataran subur berumput yang biasanya berbunga kecil-kecil indah pada musimnya. Sungai itu sangat indah di kala bunga-bunga kecil itu bermekaran. Kelopak dan mahkota bunga yang tertiup angin terkadang gugur ke dalam sungai itu dan ikut mengarungi sungai, menghiasnya dengan warna-warni kecil-kecil di atas permukaan air bergelombang. Selain itu, keindahan sungai itu juga tidak boleh disepelekan saat fajar dan senja hari, saat riak warna keemasan berpadu dengan bayang-bayang hitam menghiasi sungai itu.

     Lalu mengapa sungai itu begitu berarti bagi kami? Jawabannya adalah karena sungai itu menjadi salah satu penunjang hidup kami semua, yang tinggal dalam keadaan serba kekurangan di tepi sungai tersebut. Sungai itu menjadi tempat kami mandi, mencuci, serta minum. Sungai itu menjadi tempat kami berbincang-bincang dan berbagi cerita sebagai tetangga. Sungai itu menjadi saksi bisu dari kehidupan kami di tepi dirinya. Kami bersyukur sungai itu bersih dan mengalir terus-menerus tanpa akhir, baik di musim-musim basah maupun di musim-musim kering. Sungai itu bagaikan jawaban dan penyertaan dari Tuhan terhadap hidup kami yang berada dalam keterbatasan ini. Sungai itu bagaikan kata-kata Tuhan yang berbunyi, “Aku ada dan menjaga agar kalian tetap dapat bertahan hidup dalam keadaan kalian yang sulit ini…” Dan juga, “Aku akan terus setia berada bersama kalian walau apapun yang terjadi…” Mungkin itulah sebabnya kasih sejati sering di dalam lagu-lagu lama dihubungkan dengan sungai. Mereka memang agak mirip, bukan? Setia mengalir terus, sampai kapanpun, selamanya.

Mungkin itulah sebabnya kasih sejati sering di dalam lagu-lagu lama dihubungkan dengan sungai.

     Akan tetapi, saat ini ada satu keinginanku dan istriku yang belum dikabulkan oleh Tuhan hingga saat ini. Kami berdoa setiap malam, bersabar setiap hari, dan berharap setiap tahun, namun jawaban dari doa kami masih sama. Di antara ‘belum’ atau, semoga saja bukan sebuah ‘tidak’. Kami memohon seorang anak pada Tuhan, seorang anak yang akan melengkapi kami sebagai keluarga kecil bahagia, seorang anak yang akan memberikan suasana dan kehangatan baru di tengah-tengah kami. Namun aku dan istriku sampai saat ini masih harus menunggu saat nantinya Tuhan mengizinkan buah hati hadir di antara kami. Ya, beberapa hal memang tidak dapat dengan mudah dijawab dan dimengerti, termasuk alasan Tuhan belum memberikan seorang anak untuk kami. Namun kami tetap percaya bahwa Tuhan mengetahui jalan-Nya dan rencana-Nya, yang pasti indah dan terbaik untuk kami.

     Hari itu baru saja akan berawal. Warna jingga tipis baru saja terlihat di sisi timur langit, menandakan bahwa sang mentari yang gagah akan segera muncul dari sudut langit itu. Aku sendirian berjalan mendekati sungai, berusaha menikmati kesendirianku dalam ketenangan yang begitu menakjubkan ini. Sebuah ketenangan alam dengan hanya diiringi suara gemericik air sungai, suara embusan angin subuh, suara jangkrik di antara rerumputan, serta suara katak di sekitar sungai. Aku terbangun begitu pagi karena malam tadi terdengar dan terlihat hal yang ganjil dari arah istana kerajaan. Entah apa yang terjadi di sana, yang jelas sepertinya hal itu tidak biasanya terjadi. Akan tetapi, jarak yang sangat jauh antara tempat tinggal kami dan istana kerajaan membuat, kurasa, hanya diriku seorang yang menyadari ada sesuatu yang terjadi di tempat itu. Ditambah lagi, hujan yang turun membuat orang-orang tidak mungkin punya alasan untuk mengamat-amati keadaan di luar rumah dan tidak mungkin mereka terganggu oleh suara-suara di kejauhan. Anggaplah kepekaan inderaku dan ketidaksengajaanlah yang membuatku terbangun malam tadi.

Warna jingga tipis baru saja terlihat di sisi timur langit, menandakan bahwa sang mentari yang gagah akan segera muncul dari sudut langit itu.

     Dan karena tidurku sudah terganggu malam itu, akibatnya aku tidak bisa melanjutkan tidur pulasku lagi. Demikianlah aku berakhir di tepi sungai itu pada saat hari subuh. Aku berdiri di sana, berdiam diri saja, sampai akhirnya aku menyadari sesuatu. Aku belum pernah mencoba berdoa di tempat sesunyi ini. Sepertinya tempat ini mengundang keinginan hatiku untuk berdoa pada Tuhan. Cobalah kalian sesekali berada sendirian di tempat dengan suasana yang sama denganku. Mungkin saja kalian akan memiliki perasaan dan keinginan yang sama denganku.

     Begitulah aku memutuskan untuk berlutut dan berdoa. Aku merasakan ketenangan dan keheningan yang begitu mendamaikan hati. Aku lalu mulai berdoa, “Tuhan, terima kasih untuk kesempatan yang telah Kau berikan padaku hari ini untuk berdoa di sini, di waktu dan di tempat yang sama sekali berbeda daripada biasanya. Aku memohon ampun pada-Mu, Tuhan yang pemurah dan penyayang, jika sebelum aku berdoa pada kali ini, ada kesalahanku yang tidak berkenan di hadapan-Mu. Namun aku sebagai seorang manusia sedang berusaha dan belajar untuk memiliki hidup yang menyenangkan hati-Mu…”

Begitulah aku memutuskan untuk berlutut dan berdoa.

     Aku menarik napas panjang lewat hidungku. Udara yang sangat segar terasa masuk ke dalam paru-paruku. Rasanya begitu melegakan. Aku kemudian melanjutkan doaku, “Tuhan, pada hari ini aku ingin menyampaikan kerinduan hatiku pada-Mu. Biarlah istriku senantiasa sehat, berbahagia, dan bersemangat dalam menjalani hari-harinya bersamaku. Biarlah aku dapat menjadi suami yang mencukupi semua kebutuhan kami, sehingga kami tidak perlu sampai meminta-minta pada orang lain. Dan jika Kau berkenan, Tuhan…” Aku berhenti sejenak dan tiba-tiba merasa sangat sedih. Aku melanjutkan sambil menitikkan air mata, “Tuhan… Anugerahilah aku dan istriku seorang anak yang nantinya akan berbakti dan menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan kerajaan ini… Semoga Kau berkenan mendengar dan mengabulkan doaku ini, Tuhan yang Mahakuasa… Terima kasih Tu…”

     Belum selesai aku mengucapkan doaku pada waktu subuh itu, sebuah suara mengagetkanku, sehingga aku terpaksa menghentikan doaku. Suara itu terdengar sayup-sayup, namun sangat menarik perhatianku. Aku menajamkan telingaku dan merasa yakin bahwa itu adalah suara tangis seorang bayi. Aku kemudian berusaha mencari asal suara tangisan tersebut dan menemukan sumbernya. Aku sungguh tidak mempercayai apa yang kutemukan. Seorang bayi laki-laki di dalam lekukan batang pohon dan yang melindunginya hanyalah pakaian yang dililitkan padanya dan selembar kain yang menutupi lekukan batang pohon tersebut.

Aku menajamkan telingaku dan merasa yakin bahwa itu adalah suara tangis seorang bayi.

     Rasa kasihanku pada bayi ini mendorongku untuk mengambil kain yang menutupi lekukan batang pohon tersebut, menyimpannya di balik pakaianku, lalu menggendong bayi tersebut. Aku menimang-nimangnya dan berusaha menenangkannya. Tak lama kemudian, bayi itu tenang dan aku memutuskan untuk membawa bayi itu ke rumahku. Mungkinkah bayi ini adalah jawaban Tuhan atas doaku dan istriku? Jika ya, sungguh aku bersyukur padamu Tuhan…

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (6) Doa yang Benar

No comments:

Post a Comment