Translate

Wednesday, December 14, 2016

Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol

... Akhir dan awal akan muncul berdampingan, terus dan terus, merangkai cerita demi cerita, baik bersambung maupun tidak, menjadi sejarah yang mewarnai dunia ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

     Saat para pengawal berusaha berlari menuju ke pos penjagaan mereka yang terlihat dari sisi luar istana, terlihat satu per satu panah meluncur dari dalam hutan, tepatnya, dari dalam dedaunan pepohonan. Panah-panah itu meluncur secara misterius dan mengenai siapapun yang tengah berlari maupun bersiap di menara penjagaan mereka. Jadi ini adalah salah satu dari taktik perang suku buas ini.

     Tanpa disangka, suku yang liar ini ternyata telah memenuhi hutan. Namun mereka tidak terpantau oleh para pengawal yang berkeliling untuk berjaga-jaga karena mereka bergerak dan bersembunyi, terutama lewat atas hutan, yaitu lewat dedaunannya yang sangat rimbun. Entah bagaimana caranya mereka bertahan hidup di atas sana, berkomunikasi, dan menyusun pasukan, akan tetapi itulah yang terjadi dan itulah yang harus dihadapi oleh sang Raja dan para pengawalnya dari dalam istana.

     Kepanikan melanda istana, sebab pos jaga tidak berhasil ditempati oleh siapapun. Siapapun yang berusaha memasuki pos jaga akan segera ditembak oleh panah yang sangat akurat dan, sadisnya, beracun. Panah-panah yang digunakan oleh suku liar ini telah diolesi dengan racun yang berbahaya, bahkan jika hanya tersentuh dan tidak melukai sekalipun. Sang Raja, yang mendapat kesempatan untuk mengintai dari balik tembok secara sembunyi-sembunyi pun tidak menemukan celah apapun, sebab para pemanah ini tidak terlihat sama sekali dari balik rimbunnya pepohonan.

Kepanikan melanda istana, sebab pos jaga tidak berhasil ditempati oleh siapapun.

     Sementara itu, sang Ratu dan si Pangeran kecil ternyata telah menelusuri lorong rahasia dan muncul di mulut gua. Suasana yang begitu riuh dari arah istana menjadi pemandangan yang begitu mengerikan di mata sang Ratu dan para pengawal yang bersamanya. Sementara itu, suara-suara yang terdengar di atas mereka, yang terdengar seperti suara teriakan manusia yang liar, membuat suasana menjadi semakin mencekam. Seorang pengawal memimpin barisan dan meminta sang Ratu dan semua pengawal untuk tidak berisik saat mengendap-endap di bawah kebisingan yang ditimbulkan oleh suku-suku liar yang bersembunyi di tengah kepadatan daun-daun pepohonan.

     Beberapa langkah jauhnya mereka berjalan. Sebenarnya jarak itu tidak terlalu jauh, namun di tengah keadaan yang menakutkan ini, jarak itu terasa telah sangat jauh. Mereka berjalan sambil sesekali menoleh ke atas. Sesekali mereka melihat beberapa sosok manusia yang sangat gesit di antara pepohonan saat petir menyambar dan mengagetkan dengan cahaya dan suaranya. Namun mereka merasa sedikit lega karena hampir tidak seorang pun dari sosok manusia di atas pepohonan itu yang menatap ke bawah, karena mereka sedang memusatkan perhatian pada istana yang sedang mereka gempur habis-habisan.

     Sang Ratu dan para pengawal terus berjalan dengan berhati-hati. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah panah melesat di sisi sang Ratu. Beberapa panah lagi melesat dan mengenai beberapa pengawal. Sekarang sudah tidak ada lagi gunanya berlambat-lambat sambil terus bersembunyi. Sang Ratu dan para pengawal sama-sama mengerti bahwa harapan mereka adalah melarikan diri secepat mungkin sambil berharap tidak ada panah yang mengenai mereka dan tidak ada yang menangkap mereka.

Sekarang sudah tidak ada lagi gunanya berlambat-lambat sambil terus bersembunyi.

     Sekumpulan orang ini berlari dan terlihat sekelebat bayangan di atas dan sisi mereka yang mengejar dengan liar. Bayangan itu berayun di antara sulur-sulur pepohonan dan dengan tangkas menerkam beberapa orang pengawal dan langsung menusukkan pisau mereka yang tajam ke bagian tubuh para pengawal yang tidak dilindungi baju zirah. Akan tetapi beberapa pengawal yang lain cukup beruntung karena berhasil menebak arah ayunan sosok bayangan tersebut dan menebaskan pedang mereka ke arah tubuh penerkam mereka. Tujuan para pengawal ini, dari sang Raja, telah sangat jelas. Mereka harus mengawal sang Ratu dan si Pangeran sampai di tempat yang aman. Begitulah rombongan yang putus asa ini terus berlari dan berlari.

     Saat sang Ratu telah hampir mencapai sungai, hanya ada satu pengawal yang tersisa bersamanya. Namun pengawal itu tak luput dari terkaman salah seorang suku liar yang ternyata berhasil terus membuntuti mereka. Si pengawal menyuruh sang Ratu untuk segera pergi sementara dirinya menahan penyerangnya itu.

     Sang Ratu tiba di sisi sungai yang tengah mengalir deras. Akan tetapi keadaan di sekeliling sang Ratu membuat firasatnya memburuk. Ditambah lagi dengan suara lolongan dari arah hutan, yang sepertinya terus terdengar mendekat dan mendekat. Sang Ratu harus berpikir cepat dan memutuskan sesuatu yang tepat. Sang Ratu melihat aliran air sungai yang begitu deras membawa banyak batang kayu. Sepertinya hujan deras telah menyebabkan longsor di beberapa daerah pinggiran sungai, sehingga banyak pohon yang terhanyut ke sungai.

Sang Ratu harus berpikir cepat dan memutuskan sesuatu yang tepat.

     Sang Ratu kemudian melihat sebuah batang kayu yang tersangkut di sisi sungai dan mendekatinya. Memang berbahaya jika harus menggunakan batang kayu itu untuk mengarungi sungai deras ini, namun tidak ada pilihan lain untuk sang Ratu kecuali nekat dan mencoba peluang kecil untuk bertahan hidup ini. Daripada dia berlari menelusuri sungai sambil menunggu pengejarnya untuk menangkapnya, lebih baik sang Ratu mencoba mengarungi sungai dengan batang kayu besar tersebut. Sang Ratu melihat batang kayu itu cukup kuat dan memiliki sebuah lekukan di dalam batangnya. Sang Ratu menempatkan putranya di dalam lekukan itu dengan hati-hati, lalu menutup lekukan tersebut dengan robekan jubahnya sendiri, berusaha melindunginya dari angin dan hujan. Sang Ratu kemudian mulai mendorong batang kayu itu ke tengah sungai, lalu segera melompat naik ke atas batang kayu itu, dan duduk di atasnya sambil berusaha dengan penuh susah payah untuk menjaga keseimbangan.

     Sekelebat bayangan secara tiba-tiba berayun melesat dengan cepat dari dalam hutan dan melompat dengan tepat ke atas batang kayu yang dinaiki sang Ratu. Sang Ratu sangat ketakutan. Tidak ada yang melindunginya dan putranya lagi sekarang, namun dia harus menghadapi salah seorang suku liar ini sendirian. Di hadapan sang Ratu saat ini ada seorang dari suku liar yang menyerang istana. Sementara di belakang sang Ratu saat ini ada seorang bayi laki-laki kecil berusia dua tahun yang adalah pewaris takhta istana, putranya sendiri, putra sang Raja sendiri.

     Naluri seorang ibu pun mengambil alih kesadaran sang Ratu. Di tengah ketakutannya, sang Ratu berdiri di atas batang kayu itu, sehingga terlihat bahwa tubuh sang Ratu sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan laki-laki di hadapannya. Sang Ratu menoleh ke belakang, tempat lekukan di mana si Pangeran kecil berada, yang telah terlindungi oleh kain robekan jubahnya sendiri. Sang Ratu berkata pelan, “Anakku, maaf kita harus berpisah, tapi ketahuilah… Sampai kapanpun, Ibu dan Ayah selalu mencintaimu…”

Naluri seorang ibu pun mengambil alih kesadaran sang Ratu.

     Sang Ratu menoleh ke arah laki-laki besar di hadapannya dan berlari sambil berteriak. Si laki-laki besar itu kaget, namun tidak sempat melakukan apapun sebelum sang Ratu menabrakkan tubuhnya sendiri ke tubuh laki-laki besar itu, bermaksud untuk menghilangkan keseimbangannya dan menjatuhkannya ke dalam sungai. Akan tetapi, sang Ratu menyadari bahwa dia tidak dapat melakukan hal ini tanpa ikut terjun ke dalam sungai, sehingga itulah yang diputuskan untuk dilakukannya.

     Begitulah kisah ini berakhir menuju ke sebuah awal yang baru. Seorang bayi laki-laki yang adalah pangeran pewaris kerajaan yang begitu megah, kehilangan ayah dan ibunya, termasuk kerajaan yang menjadi haknya. Dia pergi tanpa menyadari bahwa dia adalah seorang pangeran dan melanjutkan hidupnya tanpa siapapun yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

No comments:

Post a Comment