Translate

Monday, December 12, 2016

Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat

... Bukanlah kekalahan yang lebih menyesakkan, melainkan pengkhianatan yang mewarnainya. Bukanlah perpisahan yang lebih menyesakkan, melainkan ketidakpastian akan adanya pertemuan kembali atau tidak ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (2) Dongeng Malam Hari
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol

     Sang Raja beranjak keluar dari kamar sang Ratu, tempat untuk sesaat tadi keluarga kecil bahagia ini berada. Sang Raja baru saja menutup pintu dan berjalan beberapa langkah jauhnya sebelum beberapa orang pengawal terlihat berlari menelusuri lorong, terlihat dari raut wajah mereka bahwa mereka merasa lega sekaligus panik saat mereka berhasil menemukan sang Raja. Sang Raja berdiri menunggu sampai pengawal-pengawal tersebut tiba di dekatnya. Seorang pengawal kemudian mulai berkata saat napasnya telah lumayan teratur, “Raja, kami ingin… em… harus melaporkan beberapa hal. Maaf mengganggu waktu malam Raja, tapi hal ini sangat penting dan mendesak…”

     Sang Raja mengangguk. Sang Raja kemudian mulai melangkah, memimpin beberapa orang pengawal yang sebelumnya mencarinya itu. Mereka melangkah cepat, menelusuri lorong-lorong. Tepat di sebuah lorong yang memiliki jendela di sisinya, sang Raja menyadari sebuah pemandangan di sudut matanya yang hampir dipastikan tidak diperhatikan oleh siapapun. Sang Raja berhenti, para pengawal yang mengikutinya pun turut berhenti. Sang Raja menoleh ke arah jendela dan memperhatikan pemandangan di luar sana dengan lebih saksama. Para pengawal pun turut mencoba melihat dan menerka apa yang menarik perhatian sang Raja. Namun demikian, para pengawal tidak melihat apapun yang menarik perhatian.

     Sang Raja berkata. Nada suaranya tenang, namun ada sedikit ketidaktenangan yang tersembunyi hampir dengan sempurna di antara suaranya, “Apa kalian memperhatikan sesuatu?” Para pengawal memperhatikan pemandangan di luar jendela dan saling menoleh satu sama lain. Seorang pengawal kemudian berkata, “Maaf, tapi tidak, Raja.” Sang Raja melanjutkan, “Memang, tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa sama sekali. Bahkan suara alam pun tidak. Justru itulah yang berbahaya, mengancam, dan mengerikan. Bagaikan ada yang telah membunuh kehidupan liar di luar sana untuk mempersiapkan jalan dari jauh ke kerajaan ini. Jalan yang membunuh segalanya, yang siap juga membunuh tempat tujuannya. Ada sesuatu yang akan terjadi malam ini, dan kita perlu bersiap. Musuh kita tampaknya telah memulai sebuah perang yang tidak terhormat. Itukah yang ingin kausampaikan padaku, Pengawal?”

“Apa kalian memperhatikan sesuatu?”

     Para pengawal terlihat kagum sekaligus ngeri. Kagum karena daya dan arah pikir sang Raja yang sangat menakjubkan, kagum karena tahun-tahun pengalaman memimpin kerajaan dan perang ternyata dapat membuahkan otak yang sedemikian cemerlang dan firasat yang begitu tajam. Namun ada juga rasa ngeri yang timbul karena hal ini berarti bahwa apa yang akan dilaporkan pada sang Raja ternyata benar. Ya, para pengawal tadinya ingin melaporkan berbagai bukti bahwa para musuh kelihatannya tengah mempersiapkan, bukan sebuah penyerangan biasa, namun sebuah penyergapan yang licik dan penuh tipu daya, yang bermaksud untuk membinasakan segala yang ada, bukan untuk sekadar mengalahkan. Akan tetapi sekarang mereka sudah tidak perlu repot-repot menjelaskan bukti-bukti yang telah mereka kumpulkan agar mereka dapat meyakinkan sang Raja untuk menyimpulkan sampai di titik ini.

     Akan tetapi, sang Raja menyadari bahwa kesimpulan tidaklah cukup untuk menyusun rencana perlawanan, atau pertahanan, atau bahkan mungkin rencana penyelamatan. Oleh karena itu, sang Raja segera beralih dari pandangannya ke arah luar jendela. Sang Raja bergegas memimpin para pengawal yang berjalan bersamanya menuju ke sebuah aula besar dengan sebuah meja besar di tengahnya. Ruang itu megah dan penuh dengan ukiran di tembok dan tiangnya. Namun berbeda dengan ukiran yang ada di kamar sang Ratu, ukiran di tempat ini menunjukkan nuansa kekuatan dan duel. Antara yang baik dan jahat, antara yang benar dan salah, antara yang menggempur dan yang mempertahankan diri. Sebuah ruang yang cocok, dan memang digunakan, untuk membicarakan strategi peperangan.

     Sang raja mempersilakan para pengawal untuk membicarakan hasil pengamatan mereka sejelas mungkin. Kapan mereka menemukannya dan di mana mereka menemukannya. Karena semua hal tersebut akan bermanfaat untuk memperkirakan sudah sejauh mana perkembangan rencana musuh, dan lebih jauh lagi, bermanfaat untuk menyusun strategi yang tepat untuk menaklukkannya. Sang pengawal lalu mulai dengan hati-hati dan saksama menjelaskan apa saja yang sudah mereka temukan hingga saat itu.

... mulai dengan hati-hati dan saksama menjelaskan apa saja yang ...

     Musuh yang berniat untuk menyerang mereka saat ini adalah sebuah suku yang penuh dengan kekejaman dan kekerasan, baik terhadap diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka adalah suku yang tidak tertebak dan terkenal dapat melakukan cara senekat apapun untuk dapat bertahan hidup dan meraih kemenangan. Ini juga yang menjadi alasan sang Raja ingin mendengarkan segala sesuatunya dengan jelas, sebab segala sesuatu mungkin saja terjadi dan mungkin saja dilakukan oleh suku ini.

     Hujan turun tiba-tiba. Tiba-tiba, langsung menderas tanpa gerimis yang biasanya mengantarkan hujan lebat. Dan suara yang terdengar berikutnya menarik perhatian semua orang di dalam istana. Ada sebuah suara lonceng dari tempat tinggi yang berdentang. Mungkin bagi mereka yang tidak tahu, suara itu hanya bagai sebuah suara lonceng yang berbunyi di tengah hujan deras. Akan tetapi, bagi sang Raja dan para prajurit, suara lonceng itu menandakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak, bahkan mungkin berbahaya. Ya, lonceng itu adalah lonceng yang biasanya dibunyikan oleh para pengawal yang ditempatkan di menara tertinggi istana untuk mengintai jarak yang jauh, apabila pengawal tersebut menemukan pemandangan apapun yang mencurigakan.

     Sebuah suara ketukan terdengar di pintu aula, tempat sang Raja dan para pengawal berkumpul sebelumnya. Sang Raja mempersilakan masuk orang yang mengetuk, dan terlihat beberapa orang pengawal. Para pengawal itu kemudian memberi salam penghormatan pada sang Raja sebelum melanjutkan, “Raja, menara pengintai melaporkan pergerakan dari sisi timur istana. Sebuah pasukan yang sangat banyak sepertinya sedang bergerak mendekat.” Sang Raja menundukkan kepala dan berpikir, “Jadi benar. Mereka berniat melakukan perang yang tidak terhormat sama sekali. Suku itu memang tidak dapat dipercaya. Surat ancaman perang yang mereka berikan sungguh bohong belaka. Mereka mengatakan bahwa mereka memberikan waktu sampai esok petang hari, namun sekarang mereka mulai bergerak. Pengawal! Tutup semua gerbang utama! Siapkan semua pasukan pertahanan di semua pos! Mereka tidak akan dapat menggempur istana ini dengan serbuan semacam itu. Mereka pasti akan kelelahan setelah perjalanan itu. Dan saat itu, jika memang mereka berniat untuk lanjut menyerang, kita akan menghujani mereka dengan panah dan bebatuan. Aku akan bersiap dan menuju pos penjagaan untuk memimpin! Siapkan semuanya!”

Suku itu memang tidak dapat dipercaya.

     Para pengawal mendapatkan kepercayaan diri mereka. Semua pengawal pergi dan sang Raja tidak langsung bersiap. Sang Raja justru kembali ke ruang sang Ratu, di mana sang Ratu telah terbangun sementara si Pangeran mungil masih tertidur. Raut wajah sang Ratu memperlihatkan kekhawatiran yang mendalam. Sang Ratu kemudian berkata, “Apa yang sedang terjadi? Apa yang akan menimpa kita?” Sang Raja berusaha menenangkan sebisanya, “Suku itu sepertinya berbohong pada kita. Mereka menyerang kita duluan sebelum waktu yang telah mereka sepakati di dalam surat mereka.” Sang Ratu semakin takut dan bertanya, “Lalu bagaimana? Kita bisa bertahan, bukan?” Sang Raja menjawab, “Aku telah memikirkan segalanya. Jika melihat cara mereka bergerak saat ini, tidak mungkin mereka dapat menang terhadap serangan balasan kita dari dalam istana… Tapi…” Sang Ratu menanti dengan penuh ketegangan, “… Tapi… Memang semua telah kupikirkan dan kusiapkan dengan baik. Akan tetapi aku merasa bahwa malam ini akan ada sesuatu yang terjadi… Sesuatu yang tidak terduga oleh siapapun…”

     Sang Ratu melanjutkan kata-kata sang Raja, “Maksudmu, sesuatu yang buruk?…” Sang Raja mungkin dapat dan harus tampil sebagai sosok yang kuat dan penuh keyakinan di hadapan para pengawal dan rakyat yang dia pimpin. Akan tetapi, di sisi sang Ratu, istrinya, satu-satunya pendamping yang dicintainya, sang Raja tidak dapat berbohong dan berkata, “…Ya … Sesuatu yang sangat amat buruk… Dan oleh karena itu, aku ingin kamu pergi lewat lorong rahasia yang akan mengantarkanmu menuju ke tengah hutan di sisi barat istana. Setelah keluar dari mulut gua, lanjutkan saja arah larimu, dan kamu akan menemukan sebuah sungai. Ikutilah jalan sungai itu dan kamu akan melihat salah satu desa yang berada di bawah pemerintahan kita. Bersembunyilah di sana. Aku akan memerintahkan cukup pengawal untuk menemanimu. Bawa anak kita bersamamu…”

     Sang Ratu mulai menitikkan air mata, “Tidak… Kau tahu aku rela mati di sisimu… Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun… Aku akan berada di sisimu dengan setia di masa kejayaanmu, dan di masa kejatuhanmu…” Sang Raja memeluk sang Ratu untuk menenangkannya, namun bukanlah itu alasan utama sang Raja memeluk sang Ratu. Sang Raja tidak ingin air matanya yang mengalir terlihat oleh sang Ratu. Sang Raja lalu berkata, “Ya, aku percaya kamu pasti akan melakukan semua itu. Jika tidak, aku tidak akan jatuh cinta padamu, Ratuku. Akan tetapi, pikirkanlah anak kita… Perjalanannya di dunia masih panjang… Sangat panjang… Dia tidak pantas menjadi korban janji setia kita, bukan?”

Akan tetapi, pikirkanlah anak kita… Perjalanannya di dunia masih panjang… Sangat panjang…

     Sang Ratu terdiam… Beberapa menit keheningan di antara mereka terasa begitu menyiksa. Karena mereka sama-sama tahu bahwa keheningan itu mempermainkan mereka dalam pertanyaan, ‘apakah mungkin kita akan berjumpa kembali?...’ Sang Ratu kemudian bersiap pergi dan membawa si Pangeran bersamanya. Sang Raja memerintahkan cukup banyak pengawal untuk mengawal sang Ratu, sebelum akhirnya sang Raja bersiap dengan zirah perangnya.

     Dan sebuah kejadian tidak terduga terjadi. Suku ini memang sangat berbahaya dan tidak tertebak. Suku buas ini ternyata telah mempersiapkan banyak orang dan menempatkannya di sekeliling istana, jauh sebelum menara pengintai membunyikan lonceng peringatan, jauh sebelum pasukan dari kejauhan terlihat bergerak, jauh sebelum disadari oleh siapapun. Dan ternyata istana ini bukanlah berada dalam keadaan yang sangat aman dari penyerangan, namun justru sangat terancam oleh bahaya. Pasukan suku yang baru saja dikirim dan terlihat oleh menara pengintai istana ternyata tidak sebanding dengan jumlah pasukan suku yang telah berada di sekitar istana.

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (2) Dongeng Malam Hari
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol

No comments:

Post a Comment