Translate

Friday, December 9, 2016

Pedang Raja : (2) Dongeng Malam Hari

... Pemberian yang paling berharga untuk orang-orang yang kita kasihi adalah waktu kita bersama mereka, telinga kita yang mau mendengarkan mereka, mata kita yang mau memandang mereka, kata-kata kita yang mau menghibur mereka, dan sentuhan kita yang mau menenangkan mereka ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (1) Pangeran Kecil
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat

     Sosok laki-laki bertubuh besar dan berjubah hitam legam tersebut mengeluarkan pedangnya sepelan mungkin. Sebuah pedang yang terlihat renta, dengan berbagai bekas pertempuran di sana-sini. Pedang yang sepertinya telah menemaninya begitu lama di ajang pertempuran. Bahkan mungkin, hanya pedang itulah yang berada di sisinya dan mengetahui apa yang menyebabkan bekas luka memanjang di bagian leher kirinya, yang sepertinya dahulu hampir menyebabkan maut bagi sosok tersebut. Namun demikian, pedang yang terlihat tua tersebut sama sekali jauh dari keadaan mengenaskan. Pedang itu justru terlihat agung dan berwibawa. Pedang itu masih terlihat terawat dan mengilap. Pedang itu tampak telah menjadi saksi bisu dari banyak pertempuran, kemenangan, dan kekalahan. Pedang itu tampak telah menyimpan banyak pengalaman dan cerita. Kumpulan keadaan yang dengan unik menyebabkan tangan-tangan awam pasti menjadi tidak enak menyentuhnya secara asal-asalan.

     Sosok itu kemudian berjalan perlahan menuju ke jendela yang ada di ruang tersebut, ruang tempat sang Ratu dan si Pangeran kecil tertidur. Sosok itu dengan lembut membuka tirai kekuningan, menggesernya ke kiri dan ke kanan jendela, menyingkap jernihnya kaca jendela yang masih tertutup itu. Sosok itu kemudian membuka jendela besar yang sekarang terlihat bagaikan pintu gerbang kaca raksasa yang memisahkan ruang sang Ratu dengan keindahan alam malam di luarnya. Angin berembus pelan, senyum merebak di wajah sosok laki-laki itu, terlihat bahwa dia puas karena angin tidak bertiup terlalu kencang, yang bisa merusak rencananya malam itu. Sosok itu menoleh ke arah ranjang kecil, tempat sang Pangeran masih terlelap. Senyum masih tergambar di sosok berjubah hitam itu.

Senyum masih tergambar di sosok berjubah hitam itu.

     Sosok itu menjauh dari jendela yang baru saja dibukanya dan mendekati ranjang kecil sang Pangeran dengan perlahan. Sosok itu kemudian mengangkat pedangnya tinggi. Mata sosok itu tertuju pada wajah damai bayi berusia dua tahun di dalam ranjang kecil di hadapannya. Dan sosok itu melakukan sesuatu yang tidak terduga oleh siapapun…

     Sosok itu menggeser-geser posisi pedangnya yang sedang terangkat. Sepertinya sosok itu sedang berusaha mengarahkan sesuatu. Dan benar, sosok itu ternyata sedang berusaha mengarahkan pedangnya agar memantulkan cahaya terang rembulan menuju ke arah mata sang Pangeran mungil yang sedang tertidur. Beberapa saat lamanya hal ini terjadi dan cahaya pantulan rembulan yang tampak memanjang terlihat menari-nari di ranjang dan wajah si Pangeran kecil. Dan pada suatu ketika, sang Pangeran kecil membuka matanya. Ini ternyata adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh si sosok misterius itu.

 Ini ternyata adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh si sosok misterius itu.

     Si sosok laki-laki besar kemudian membungkuk dan berbisik pelan pada si Pangeran kecil, “Hai, calon Raja yang masih kecil… Sekarang, Raja asli yang sudah besar kembali mengunjungimu untuk bercerita… Kamu mau mendengar cerita kan? Kita biarkan Ibumu tidur terlelap ya… Jangan bilang-bilang Ibu kalau Ayah datang ke sini, nanti Ayah ditegur oleh Ibumu…” Si Pangeran kecil, layaknya mengerti apa yang sedang terjadi, terlihat begitu ceria. Si Pangeran kecil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, lalu sebuah senyum tergambar di wajah bayi mungil itu.

     Sosok laki-laki, yang ternyata adalah sang Raja sendiri, kemudian menggendong si Pangeran dengan tangannya kirinya yang tidak memegang pedang. Sang Raja memastikan lekukan tangan dan tubuhnya menjadi tempat yang nyaman bagi si bayi untuk bersandar, kemudian sang Raja melanjutkan kata-katanya, “Ibumu sering mengatakan bahwa kebiasaan ini tidak sehat untukmu, Nak. Ibu bilang bahwa angin malam itu membawa banyak penyakit di balik kelembutan embusannya. Tapi Ayah yakin kamu itu kuat. Angin malam butuh lebih dari sekadar tiupan untuk mengalahkanmu. Betul kan? Lagipula angin malam ini tidak terlalu kencang, basah, atau dingin kok.” Si pangeran kecil terisak pelan, terlihat ingin tertawa. Akan tetapi sang Raja tidak senang dan justru memberi isyarat pada si Pangeran kecil agar dia tidak berisik, “Ssst… Jangan berisik… Nanti kalau Ibumu terbangun, habislah Ayah…”

Si pangeran kecil terisak pelan, terlihat ingin tertawa.

     Sang Raja kemudian memulai ceritanya. Ya, sang Raja mendongeng untuk anaknya, si Pangeran mungil. Sang Raja sering melakukan hal ini untuk sang Pangeran, terutama pada malam hari di mana rembulan bersinar terang dan angin tampak bersahabat. Walaupun beberapa kali menyebabkan kekhawatiran pada sang Ratu, sebab takut anak mereka akan sakit, sampai saat ini sang Pangeran belum pernah mengalami masalah kesehatan karena hal ini. Mungkin itulah sebabnya sang Ratu belum memberikan larangan keras untuk suaminya tentang hal dongeng-mendongeng ini. Mungkin juga karena sang Ratu senang melihat kenyataan bahwa suaminya terlihat menyayangi putra mereka, dengan mau memberikan waktu di tengah kesibukannya sebagai raja untuk menceritakan kisah-kisah bernilai kehidupan tinggi pada si Pangeran.

     “Hmmm, malam ini apa yang Ayah mau ceritakan padamu ya? Apa kamu mau mendengar tentang kisah pemanah yang setia, yang tidak mau mengkhianati Rajanya sendiri karena emas dan perak?” Sang Raja bertanya pada Si Pangeran dan memandangnya. Si Pangeran memperlihatkan raut wajah biasa-biasa saja pada sang Raja. Sang Raja kemudian melanjutkan kata-katanya, “Tidak mau ya? Bagaimana kalau kisah tentang buaya yang berusaha menunjukkan pada teman-temannya di hutan bahwa dirinya tidak berbahaya walaupun seluruh dunia menganggap semua buaya itu berbahaya?” Si bayi kembali memperlihatkan raut wajah biasa-biasa saja, sehingga sang Raja kembali melanjutkan, “Tidak mau juga ya? Bagaimana dengan kisah seorang anak yang berusaha menjadi raja, pertama dengan cara yang salah, namun akhirnya dia menyadari kesalahannya, kemudian berusaha dengan cara yang benar?” Si Pangeran menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dan tertawa kecil. Sang Raja kemudian berkata, “Baiklah kalau begitu… Cerita yang ketiga ya… Jadi, pada suatu hari…”

“Baiklah kalau begitu… Cerita yang ketiga ya… Jadi, pada suatu hari…”

     Begitulah sang Raja mendongeng dengan penuh semangat, sambil berusaha mengendalikan suaranya agar tidak mengganggu sang Ratu. Sang Raja bercerita sambil melompat ke sana-kemari, berjalan ke sana-kemari, dan mengayunkan pedangnya ke sana-kemari. Di kala itu, sang Pangeran terlihat ikut bersemangat, tersenyum dan tertawa, serta menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Sang Raja tidak menyadari bahwa sang Ratu ternyata telah terbangun juga dari tidurnya. Sang Ratu tengah mendengarkan dan memperhatikan tingkah polah sang Raja dari balik tirai di ranjangnya sambil tersenyum kecil, sambil juga berusaha menahan tawa. Sang Ratu tidak ingin sang Raja tahu bahwa sang Ratu telah terjaga dari tidurnya dan mengikuti cerita sang Raja. Begitulah malam itu berlalu, menit demi menit.

     Pada akhir cerita sang Raja, sang Raja menutup kisahnya dengan sebuah pesan, sebuah nasihat, “Kuharap dirimu juga begitu, Nak. Biarlah setiap orang mengakui bahwa dirimu berhak menjadi seorang raja, bukan karena dirimu dapat memberikan ketakutan dan teror pada mereka. Namun lebih daripada itu, biarlah setiap orang mengakui bahwa dirimu berhak menjadi seorang raja karena dirimu memang pantas menjadi raja. Karena kamu memang mampu, karena dirimu memang mau. Dan khususnya untukmu, Anakku, karena dirimu memang adalah seorang Pangeran, yang kelak akan menggantikan Raja…”

“Kuharap dirimu juga begitu, Nak. ...

     Mata sang Pangeran kecil, yang sedari tadi telah terlihat mengantuk, akhirnya mengalah dan sang Pangeran mungil kembali dibawa oleh para malaikat mimpi ke alam bunga tidur. Sang Raja meletakkan si Pangeran dengan lembut kembali ke ranjangnya, lalu bergegas menyimpan pedangnya, serta tidak lupa menutup jendela kaca dan tirai jendela tersebut. Sang Raja kemudian berdiri di sisi ranjang sang Ratu, menyempatkan waktu melihat wajah sang Ratu yang begitu dicintainya, sebuah senyum kemudian muncul di wajah sang Raja. Sang Raja kemudian berbalik menuju ke pintu ruang itu, bermaksud untuk keluar. Namun sang Ratu berkata, “Jadi hanya begitu saja? Hanya putra kita saja yang kaupeluk dan kautimang? Sementara aku hanya kaulihat dari balik tirai ini, kausenyumi, lalu kautinggalkan begitu saja?”

     Sang Raja terpaku. Sang Raja menoleh dan bertanya, “Jadi… Dari tadi kamu…” Sang Ratu terbangun, duduk di atas ranjangnya, lalu berkata, “Ya… Aku mendengarkan setiap kata yang kau ucapkan saat bercerita dan melihat setiap gerakan yang kau buat sambil menggendong putra kita… Kamu memang tidak ada duanya… Pasti tidak ada raja lain yang seperti dirimu… Aku semakin mencintaimu… Hahaha…” Sang Raja kemudian berjalan mendekat ke ranjang sang Ratu dan membuka tirainya. Sang Raja kemudian memberikan kecupan selamat malam pada sang Ratu di dahinya. Mereka berdua berbincang sejenak di atas ranjang itu, memperbincangkan banyak hal, namun terutama memperbincangkan tentang perang yang akan terjadi dalam hitungan jam.

... namun terutama memperbincangkan tentang perang yang akan terjadi dalam hitungan jam.

     Sebuah perang yang akan mengubah segalanya, sebuah perang yang akan menjungkirbalikkan hidup si Pangeran kecil. Si Pangeran kecil tidak menyadari bahwa dongeng yang didengarnya dari ayahnya, sang Raja sendiri, adalah dongeng terakhir yang akan dia dengar langsung dari mulut ayahnya. Si Pangeran kecil pun tidak menyadari bahwa dongeng yang didengarnya dari ayahnya akan serupa dengan masa depan yang akan dia jalani.

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (1) Pangeran Kecil
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat

No comments:

Post a Comment